ALHAMDULILLAH

ALHAMDULILLAH  I’M  A  MOSLEM,
ALHAMDULILLAH  I’M  INDONESIAN J
 
 
Bekerja di negeri orang,memberikan saya kesempatan untuk lebih banyak mengenal dan berinteraksi dengan rekan kerja yang berasal dari nasionality yang berbeda,tiap2 dari mereka memiliki karakteristik yang berbeda pula dari mayoritas karakteristik orang indonesia pada umumnya,’i found it interesting J..walau pada awalnya ‘agak sulit’ untuk menerima sikap mereka yang cenderung ‘to the point’ dan vokal (ga seperti mayoritas orang indonesia yang biasa memakai ‘rasa’ dalam berkata),tapi alhamdulillah.. sejauh ini saya merasa semua berjalan baik2 saja J …

                                                                                                                                       

Tiap nasionality memiliki kultur yang berbeda,tiap agama memberi aturan tersendiri pada penganutnya,dan rasa syukur saya pun makin bertambah padaNYA  setelah melihat dan mendengar bagaimana ‘agama dan kultur’ yang mereka punya, menjadi beban tersendiri bagi mereka.dan bagaimana semua itu telah membuka lebar pikiran saya betapa DIA telah membuat ketetapan yang tidak akan pernah merugikan hamba2NYA..
 
Sebutlah dia dengan ‘Nii’,perempuan manis berkebangsaan india ini,belakangan selalu tampak murung dalam sepi.curhat punya cerita ternyata semua ini berkaitan dengan rencana pernikahannya yang akan diselenggarakan akhir tahun ini..dalam perhitungan standart,nii harus menyediakan ‘dauuri’/’mahar’ untuk calon pengantin pria sebesar 25 pounds emas (1 pounds = 8 gram) dan uang tunai sebesar 2 lak = 20.000 SR (1 SR = Rp 2500 s/d 2800),tidak hanya mahar yang dibebankan oleh pihak wanita,tapi juga penyelenggaraan pesta tunangan pun dibebankan untuknya.semakin tinggi tingkat pendidikan dan kasta sang pria yang akan ‘di beli’ nya,maka makin tinggi pula harga yang harus disediakan oleh pihak wanita…dan mereka (para wanita) adalah tulang punggung keluarga
 
Salah  seorang dokter specialist pun ikut berbagi cerita tentang kebahagiannya yang baru saja selesai menyelenggarakan pernikahan anak perempuan pertama nya dengan mengatakan bahwa beliau memberi mahar untuk menantu laki2 nya sebesar 2kg emas batang(belum termasuk uang tunai),spontanitas saya berkata, ‘ya ampuuuun,’beli’ nya mahal amat Dok’ :-O ckckckck…..
 
Lain India dengan kulturnya,lain lagi cerita seorang teman yang berkebangsaan Pakistan dengan masalah yang dihadapinya….
 
Saya biasa memanggilnya dengan ‘baji’ (panggilan hormat untuk saudara perempuan yang lebih tua usianya),tidak sekali , dua kali beliau mengungkapkan kebingungannya untuk menyediakan ‘dauri’ untuk persiapan pernikahan anak perempuan satu2nya yang sudah menginjak usia 23th dan sebentar lagi akan di wisuda,ketika saya bertanya ‘dalam islam tidak ada aturan yang mengatakan perempuan yang memberi mahar’,seraya menghela nafas panjang,ia pun menjawab..’ini bukan dari aturan islam,tapi ini tradisi.jika kita tidak melaksanakannya,masyarakat akan memandang rendah nilai keluarga kita’….hmmm
 
Cerita lain dari seorang ‘Ate’,wanita cantik berusia 45 thn ini akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa pernikahannya tidak lagi bisa dipertahankan.10 tahun bekerja di negara orang,agaknya membuat ia lupa bahwa masih ada ‘suami’ yang menantinya dirumah,bersama anak dan sanak saudara lainnya..alasan baku pun di ungkapkan ketika saya tanya ‘kenapa?’,jawabnya sederhana..’aku tidak siap hidup pas pas an dengannya’,keputusannya yang sudah bulat untuk tetap bekerja (walau suaminya menuntut untuk berhenti),pada akhirnya membuahkan hasil yang tidak sesuai dengan harapannya,walau tiap 10bln kami mendapat jatah pulang/cuti 2bln,tapi itu tak cukup untuk sang suami yang lelah menanti dan bosan hidup sendirian,akhirnya ia pun terpikat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain..ate pun mengatakan ‘resmi berpisah’ dengan suaminya,’tapi tak berpisah secara hukum negara dan agama???’@_@ usut punya usut,ternyata mereka hanya ‘bercerai’ secara keluarga saja,hukum agamanya yang mengharamkan perceraian membuat prosedur perceraian di pengadilan menjadi alot dan banyak memguras uang,sehingga mayoritas mereka yang ingin bercerai dengan pasangannya,hanya mengambil langkah ‘berpisah secara keluarga’,dalam hal ini pasangan resmi bercerai,dan boleh memiliki pasangan lainnya (tanpa pernikahan) …hmmmm…so complicated!!
 
Dari kisah diatas,sudah jelas bukan bagaimana bersyukurnya kita yang terlahir sebagai seorang muslim,dan dilahirkan di tanah air yang walaupun banyak masalah,setidaknya indonesia bukan negara dengan kultur  yang merendahkan nilai2 wanita…biar lebih jelas untuk semua,yukz kita tela’ah bagaimana sih sebenarnya kedudukan wanita dalam pandangan islam??  JJ
 
KEDUDUKAN WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM
 
Ajaran islam memberi kedudukan dan penghormatan yang tinggi
kepada wanita, dalam hukum ataupun masyarakat.Beberapa bukti yang menguatkan dalil bahwa ajaran Islam memberikan kedudukan
tinggi kepada wanita, dapat dilihat pada banyaknya ayat Alquran yang
berkenaan dengan wanita. Bahkan untuk menunjukkan betapa pentingnya kedudukan wanita, dalam Alquran terdapat surah bernama An-Nisa, yang artinya wanita. Selain Alquran, terdapat puluhan hadits (sunnah) Nabi Muhammad SAW yang membicarakan tentang kedudukan wanita dalam hukum dan masyarakat.
 
wanita  adalah makhluk yang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki. Dia adalah salah satu wujud ke-Maha Sempurnaan Allah dalam ciptaan-Nya,yang berbeda karena keistimewaan yang dimilikinya.hal Inilah  yang selama ini belum tergali oleh ilmu-ilmu humanisme Barat. 

 Menurut ajaran Islam, seorang wanita tidak bertanggungjawab untuk mencari nafkah keluarga, agar ia dapat sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada urusan kehidupan rumahtangga, mendidik anak dan membesarkan mereka. Walau demikian, bukan berarti wanita tidak boleh bekerja, menuntut ilmu atau melakukan aktivitas lainnya. Wanita tetap memiliki peranan (hak dan kewajiban) terhadap apa yang sudah ditentukan dan menjadi kodratnya.

 
‘dan kewajiban ayah  memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf’ (QS Albaqarah : 233)
Dari Mu’awiyah ibn Hidayah Ra. Ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa hak istri salah seorang dari kami atas suaminya?’ Beliau menjawab, ‘Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau memakai pakaian, engakau tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkan dan tidak memboikot kecuali dirumah.’” (HR Ibnu Majah)
 
sebagai anak (belum dewasa), wanita berhak mendapat perlindungan, kasih sayang dan pengawasan dari orangtuanya.
Islam melindungi dan menjaganya dari kesusahan dan kesulitan dalam mencari penghidupan. Maka Islam mewajibkan nafkahnya atas walinya, baik dia ayah, saudara, paman ataupun selain mereka. Jika dia telah menikah, maka tanggungan nafkah dan pemenuhan kebutuhannya beralih kepada suaminya walaupu ia memiliki harta.
 
Rasulullah Saw bersabda,
“ Barang sispa yang memiliki tiga anak perempuan, ia melindungi mereka, menyayangi mereka dan menanggung mereka, wajiblah baginya surga.” Ada yang berkata, “ Wahai Rasulullah jika dua orang?” Beliau menjawab, “ Sekalipun dua orang.” Perawi berkata, “Maka sebagian orang melihat sekiranya sekiranya ia mengatakan satu orang niscaya belia berkata, “Dan satu orangpun”
 
Wanita sebagai seorang istri adalah partner/ pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan,kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa:1, At-Taubah:71,Ar-Ruum:21, Al-Hujurat:13).bahkan dengan begitu indahnya Alqur’an memberi perumpamaan tentang hal ini, dalam salah satu ayat menyimbolkan hubungan saling ketergantungan itu dengan istilah pakaian,
 
 ‘mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka’(QS Albaqarah : 187)
 
Sebagai ibu, wanita mendapat kedudukan terhormat dan mulia.ia adalah madrasah utama bagi anak-anaknya dirumah,dia lah sosok yang menjadi panutan bagi mereka,serta pribadi yang didapati di hadapan setiap anak pada kali pertama mereka membuka matanya untuk melihat dunia.Islam telah memberikan pesan melalui Alqur’an tentang kedudukan orangtua dengan penekanan untuk berbuat baik pada keduanya (QS Luqman : 14)
 
Dewasa  ini banyak sekali orang yang ketika membaca ayat Al-Quran, sejak awal sudah kurang percaya pada isinya. Sehingga apapun yang dibaca, pemahaman yang didapat umumnya kurang objektif. Karena itu, banyak sekali kebohongan yang dilancarkan oleh mereka yang membenci al-quran dimana mereka sangat hafal potongan-potongan ayat yang mudah dijadikan sumber masalah. Entah masalah ketidak-adilan terhadap wanita, tentang poligami, tentang jihad, tentang hukum Islam yang kejam, tentang diakuinya perbudakan dan seterusnya. 
 
Dalam catatan sejarah dapat ditelusuri, ajaran Islam telah mengangkat
derajat wanita sama dengan pria dalam bentuk hukum, dengan memberikan hak dan kedudukan kepada wanita yang sama dengan pria sebagai ahli waris mendiang orangtua atau keluarga dekatnya. Hukum Islam pula yang memberikan hak kepada wanita untuk memiliki sesuatu (harta) atas namanya sendiri.Padahal ketika itu kedudukan wanita rendah sekali, bahkan dalam masyarakat Arab yang bercorak patrilineal sebelum datang Islam, wanita mempunyai banyak kewajiban, tetapi hampir tidak mempunyai hak. Wanita dianggap benda belaka, ketika masih muda ia kekayaan orangtuanya, sesudah menikah ia menjadi kekayaan suaminya. Sewaktu-waktu mereka bisa diceraikan atau dimadu begitu
saja.Fisiknya yang lemah, membuat wanita dipandang tak berguna karena ia tak dapat berperang mempertahankan kehormatan. Pandangan ini tentu saja merendahkan derajat wanita dalam masyarakat. Kedudukan wanita yang rendah itulah, kemudian menjadi salah satu hal yang diperangi dan ditinggalkan oleh ajaran Islam.
 
 
 Beginilah cara Islam memandang wanita :
 
·         Kedudukan wanita sama dengan pria dalam pandangan Allah,persamaan ini jelas dalam kesempatan beriman,beramal saleh atau beribadah seperti shalat,zakat,berpuasa,berhaji dsb (QS Al-Ahzab:35,Muhammad:19).
 
·         Kedudukan wanita sama dengan pria dalam berusaha untuk memperoleh,memiliki, menyerahkan atau membelanjakan harta kekayaannya (QS An-Nisa:4 dan 32).
 
·         Kedudukan wanita sama dengan pria untuk menjadi ahli waris dan memperoleh warisan, sesuai pembagian yang ditentukan (QS An-Nisa:7).
 
·         Kedudukan wanita sama dengan pria dalam memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan: “Mencari/menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban muslim pria dan wanita” (HR Ibnu Majah).
                                                
·         Kedudukan wanita sama dengan pria dalam kesempatan untuk memutuskan ikatan perkawinan, kalau syarat untuk memutuskan ikatan perkawinan itu terpenuhi atau sebab tertentu yang dibenarkan ajaran agama, misalnya melalui lembaga fasakh dan khulu’, seperti suaminya zhalim, tidak memberi nafkah,gila, berpenyakit yang mengakibatkan suami tak dapat memenuhi kewajibannya dan lain-lain.
 
·         Wanita adalah pasangan pria, hubungan mereka adalah kemitraan,kebersamaan dan saling ketergantungan (QS An-Nisa:1, At-Taubah:71,Ar-Ruum:21, Al-Hujurat:13). QS Al-Baqarah:2 menyimbolkan hubungan saling ketergantungan itu dengan istilah pakaian; “Wanita adalah pakaian pria, dan pria adalah pakaian wanita”.
·         Kedudukan wanita sama dengan kedudukan pria untuk memperoleh pahala(kebaikan bagi dirinya sendiri), karena melakukan amal saleh dan beribadah di dunia (QS Ali Imran:195, An-Nisa:124, At-Taubah:72 dan Al-Mu’min:40).
 
·         Hak dan kewajiban wanita-pria, dalam hal tertentu sama (QSAl-Baqarah:228, At-Taubah:71) dan dalam hal lain berbeda karena kodrat mereka yang sama dan berbeda pula (QS Al-Baqarah:228, An-Nisa:11 dan 43).
Apabila wanita telah terpelajar dan terdidik, maka tidak mungkin sama sekali menggugurkan kapabilitas ekonomi dan sosialnya.
Maka dari segala kapabelitas ekonominya Islam memberinya hak untuk memiliki, mewarisi, berjual beli, menerima, memberi dan seterusnya. Allah SWT berfirman:
“ Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan” (Qs. An-Nissa’: 7) 
Dan Allah SWT berfirman : “ Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (Qs. An-Nisaa’ : 4)
Rasulullah Saw bersabda,“ Jika perempuan berinfak dari makanan rumahnya tanpa merusak, baginya pahala karena apa yang diinfakkannya itu dan baginya pahala karena apa yang diinfakkannya itu dan bagi suaminya pahala karena apa yang di usakannya.”(HR. Bukhari-muslim)
 
·         Dari segi kapabelitas sosialnya, Islam memberinya hak memilih lelaki yang disukainya sebagaimana  suami dengan sekira-kira tak seorangpun dari para walinya-walaupun dia seorang ayah- boleh memaksanya untuk menerima seorang suami yang disukainya.
 
Rasulullah Saw bersabda,“Janda lebih berhak atas dirinya dari pada walinya, dan perawan harus dimintai izin oleh ayahnya mengenai dirinya, dan izinnya adalah diamnya”. (HR Muslim)
Jika ada seorang memaksanya atas hal tersebut, maka Islam menyerahkan masalah tersebut kepadanya. Jika dia mau dia boleh menerimanya dan jika dia mau dia boleh menolaknya.
Seorang gadis pernah datang kepada Rasulullah Saw lalu berkata, “ Ayahku telah menikahkan aku dengan anak saudarnya untuk meninggikan kerendahan derajatnya.” Maka Rasulullah Saw menyerahkan masalah tersebut kepadanya. Lalau ia berkata, “ Aku telah memperbolehkan apa yang telah diperbuat ayahku. Akan tetapi aku hanya ingin memberitahu kaum wanita bahwa para ayah tidak memiliki sedikit hakpun dalam masalah ini”
 
·         Bahkan Islam mengantarkan perempuan lebih jauh dari itu ketika Islam menjadikanya bertanggung jawab terhadap perbaikan masyarakat melalaui amar ma’ruf dan nahi munkar.
Allah SWT berfirman :“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah:71).
 
·         Sebaliknya Islam mengharamkan atasnya segala hal yang berlawanan dengan sifat kewanitaan ini, seperti menyerupai lelaki dalam berpakaian, gerak-gerik, perilaku dan lain sebagainya, memperlihatkan perhiasan kepada selain suami dan mahrim-mahrimnya, arau berdua-duaan dengan lelaki yang bukan suaminya dan bukan pula mahrimnya, atau berbaur dengan komonitas lelaki ajnabi tanpa adanya keperluan yang mendesak, ataupun melebihi dari ukuran yang sewajarnya, atau tidak konsisten dengan batasan-batasan syariat dalam pertemuan  dengan mereka.
 
 
At last,again i realize..how lucky and proud i am as a Moslem,how happy i am as Indonesian citizen.aturan yang jelas dalam kitab suciNYA,nyata2 telah meningkatkan derajat wanita dipandangan masyarakat pada umumnya,tidak ada istilah wanita ‘membayar mahar/membeli’ pria yang akan menjadi calon suaminya..tidak ada tuntutan yang mengharuskan wanita berubah fungsi menjadi kepala rumah tangga yang menjadi penanggung jawab untuk memberi nafkah keluarga..
‘hukum-hukum yang ada dalam Islam melindungi sifat kewanitaan perempuan dari taring-taring pemangsa dari satu sisi, dan menjaga sifat malu serta kehormatannya dengan menjauhkannya dari faktor-faktor penyimpangan dan penyesatan dari sisi lain, dan memelihara citranya dari lidah-lidah para tukang fitnah dan tukang hasung dari sisi ketiga. Bersama dengan ini semua, Islam menjaga jiwanya dan syarf-syarafnya dari ketegangan dan stress serta dari goncangan-goncangan dan tekakan-tekakan akibat tidak terkendalinya imajinasi, sibuknya hati dan terbagi-baginya perasaan di antara berbagai motif dan pemicu.” (Malaamih al Mujtama’ al-Muslim, hal 368)
 
Resources :
www.fiqhislam.com                                                                                                    27.07.32
www.rumahislami.com                                                                                                k.s.a
 
Image
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s