KOK SUKA SIH MENUNDA-NUNDA ???

Bismillahirrohmanirrohiim..

 
Sadar g sih terkadang kita sering menunda2 hal yang sebenarnya bisa kita lakukan saat itu juga,tapi berbagai alasan dikemukakan oleh hati untuk dijadikan pembenaran pada setiap ‘kelalaian’ yang kita lakukan.saya cenderung menyebutnya kelalaian karena bukankah 
Hasan Al Banna mengatakan bahwa, ”Alwaajibatu Aktsaru minal Auqoot.” Kewajiban yang dibebankan kepada kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita miliki, pada saat kita menunda dari menyelesaikan suatu perkara. Hakikatnya kita sedang menumpuk-numpuk kewajiban, semakin kita sering menunda maka semakin banyak tumpukkan pekerjaan yang harus kita selesaikan, sehingga apabila kita menunda berarti kita hidup dalam tumpukan-tumpukan kewajiban untuk diselesaikan dalam waktu yang lebih sedikit. ..
 

Sebagai contoh, ketika kita hendak belajar, membaca, ataupun menelaah bidang ilmu, kita sering berleha-leha dengan alasan masih banyak waktu, “besokkan masih bisa dilanjutin.”. 
 Besok sajalah baru hafal matan kitab tersebut. Besok sajalah baru mengulang hafalan qur’an. Besok sajalah baru menulis bahasan fiqih tersebut. Besok sajalah baru melaksanakan shalat sunnah itu, masih ada waktu. Yang dikatakan adalah besok dan besok, nanti dan nanti sajalah.
 Bisikan-bisakan demikian, sejatinya berasal dari bisikan Syaitan dan hawa nafsu yang tidak pernah rela apabila kita melakukan kebajikan
 
Contoh lain nya banyak kita temukan dalam keseharian kita,Ketika melihat seorang teman yang ‘rutin’ ngerjain sholat fajr nya di waktu dhuha,lisan ga tahan untuk berkata “kamu niat sholat ga?”,tapi seketika itu juga ‘istigfar’ meredam kekesalan yang timbul di hati,seraya berbisik ‘di doa kan saja dan tunggu waktu yang tepat untuk sampaikan dakwah’(padahal dakwah tidak cukup dengan hanya berdo’a),ketika seorang teman asyik fesbukan hingga lalai untuk melaksanakan sholat wajib di awal waktu2 yang telah ditetapkan,lisan lantang berkata ‘jalan surga terbentang lewat fesbuk yaaa???’…dan dengan santai,ia menjawab ‘tanggung nih,lagi diskusi tentang ciri2 akhwat shalehah,kan itu dakwah jugaa’..ketika diri mengazzamkan untuk setia rutin menghafal Alqur’an,bisikan syaithon pun datang dan berkata ‘nanti sajalah..kan masih ada waktu luang/tenang aja lah kan masih ada esok hari untuk menghafal…dst’
 
Contoh lain yang telah menjadi rahasia umum adalah  masalah waktu, banyak banget dari kita yang dikenal suka menggunakan sistem “jam karet”. tidak ada prinsip tepat waktu di dalam penerapannya. Ia selalu molor, molor, dan molor. Sebagai contoh, ketika kita hendak mengadakan rapat ataupun kegiatan sejenisnya yang berkaitan dengan ketepatan waktu, maka setiap kali itu pula pemunduran jadwal dari waktu yang telah disepakati, senantiasa terjadi. 

Sepakat kumpul jam tujuh, tibanya jam setengah delapan. Berjanji untuk datang jam sepuluh, munculnya malah jam sebelas, begitu seterusnya, dan begitu seterusnya. Dan ‘tradisi’ ini terjadi, bermuara pada karakter manusia yang ‘doyan’ menunda-nunda pekerjaan/waktu. 

Menurut hemat saya,sekali kita ‘enjoy’ dengan kebiasaan untuk selalu menunda2 pekerjaan,maka hal itu akan merambat menjadi kemalasan yang berkepanjangan.Terkadang tanpa kita sadari,kita sendiri seringkali  menunda2 banyak hal untuk sesuatu yang tidak jauh lebih penting dari yang seharusnya kita lakukan.sebagai contoh beberapa teman yang seneng banget numpukin piring kotor setelah selesai makan,merendam baju untuk dicuci sampai berhari2 >.< (kebayang kan harumnya..???),padahal apa sih susahnya ‘memaksakan’ diri untuk ‘menjadi bersih’? padahal saya yakin,mayoritas muslim tahu betul salah satu kata mutiara yang biasa disampaikan oleh guru agama waktu di SD dulu,bahwa ‘Kebersihan adalah sebagian dari iman (An-nazaafathu Minal iiman)..tapi,lagi2 ‘alasan’ menjadi pemenang untuk membenarkan kebiasaan2 yang dilakukan.ujung2nya kalimat ‘prkatek itu lebih sulit dibanding teori’  pun tetap membudi daya dikalangan ‘manusia’ J

 
Astagfirullah.. lagi2 ‘alasan’ menjadi pemenang untuk membenarkan kelalain dan kebiasaan2 yang dilakukan.dalil yang satu diambil setengah untuk menjadi bahan pembenaran pada setiap aksi yang dikerjakan.semua alasan dijadikan ‘tameng’ untuk sebuah ‘penundaan’ amal ibadah yang akan kita lakukan.
 
 Begitulah sejatinya  bisikan2 Syaitan dan hawa nafsu yang tidak pernah rela apabila kita melakukan kebajikan. 

Tidak hanya satu, dua kali Syaitan dan hawa nafsu mendorong kita untuk menunda pekerjaan, namun, mereka akan terus-menerus memperdayai kita, hingga kita takluk dengan bujuk rayuan mereka. Dan ketika mereka (Syaitan dan hawa nafsu) berhasil membelokkan kita, dan jika kita biarkan begitu saja tanpa ada perlawanan dari dalam diri kita,maka, pastinya di kemudian hari, kita pun akan menuai buahnya, yaitu berlalunya waktu dengan kesia-siaan.

Menurut sebagian ulama salaf, perkataan “sawfa … sawfa”, “nanti sajalah” dalam rangka menunda-nunda kebaikan, ini adalah bagian dari “tentara-tentara iblis’
  Menunda-nunda kebaikan dan sekedar berangan-angan tanpa realisasi, kata Ibnul Qayyim bahwa itu adalah dasar dari kekayaan orang-orang yang bangkrut.
إن المنى رأس أموال المفاليس
“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.”[1]
 
 
Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!” 
 
Al Hasan Al Bashri berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.”[2]
 Jika memang ada kesibukan lain dan itu juga kebaikan, maka sungguh hari-harinya sibuk dengan kebaikan. Tidak masalah jika ia menset waktu dan membuat urutan manakah yang prioritas yang ia lakukan karena ia bisa menilai manakah yang lebih urgent.
Namun bagaimanakah jika masih banyak waktu, benar-benar ada waktu senggang dan luang untuk menghadiri majelis ilmu, muroja’ah, menulis hal manfaat, melaksanakan ibadah lantas ia menundanya. Ini jelas adalah sikap menunda-nunda waktu yang kata Ibnul Qayyim termasuk harta dari orang-orang yang bangkrut. Yang ia raih adalah kerugian dan kerugian.
Lihatlah bagaimana kesibukan ulama silam akan waktu mereka. Sempat-sempatnya mereka masih sibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah.
Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’  Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[3] Subhanallah … Lisan selalu terjaga dengan hal manfaat dari waktu ke waktu.
Ingatlah nasehat Imam Asy Syafi’i –di mana beliau mendapat nasehat ini dari seorang sufi-[4], “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. (Di antaranya), dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang.Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”[5]
Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[6]
Para ulama salaf kita telah menuliskan resep yang ampuh untuk mengobati penyakit kronis ini, yaitu dengan mendidik diri agar segera melakukan dan bersegera menuntaskan. 

Ibnu umar berkata. “Bila engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu datangnya pagi, dan bila engkau di pagi hari, maka janganlah menunggu datangnya sore.” Manfaatkan waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu. 

Hasan Al-Bashri berwasiat, “Jangan sekali-kali menunda-nunda karena Anda adalah hari ini bukan besok.” Beliau juga berkata ,”Apabila Anda memiliki esok hari, maka penuhilah dengan ketaatan, sebagaimana hari ini yang Anda penuhi dengan ketaatan bila Anda tidak lagi hidup di esok hari, maka Anda tidak akan menyesal atas apa yang Anda lakukan hari ini.” 

Ibnu Al jauzi mewanti-wanti kita agar tidak mengulur-ulur waktu. Beliau pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengulur-ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar.” Penundaan merupakan bekal orang yang bodoh dan lalai. Itulah sebabnya orang yang saleh berwasiat, “Jauhilah ‘saufa (nanti)’, penundaan juga kemalasan, merupakan penyebab kerugian dan penyesalan.” 

Secara sederhana nya,langkah2 tersebut dapat kita rinci dalam beberapa steps, :
 
Tips Pertama.
 
Hindari “thulul amal” (= panjang angan-angan)
-Jangan merasa masih akan hidup lama pada waktu mendatang, padahal realitasnya, kematian selalu siap menjemput kita.
-“Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka lakukanlah shalat sebagai shalat seseorang yang akan meninggal!” (HR. Ahmad)
 
Tips Kedua.
 
Hindari lebih percaya dugaan daripada realitas
-Percaya Diri (PD) itu bagus, tapi jangan lantas menunda-nunda, siapa tahu kondisi eksternal berubah tiba-tiba.
-“Shadaqah apa yang terbesar pahalanya?”
Rasul: “Shadaqah saat kau masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan jangan tunda hingga nyawa di tenggorokan, dan kau baru berkata ‘untuk si fulan sekian, dan untuk si anu sekian’ padahal harta itu sudah hak ahli warisnya” (HR. Bukhari & Muslim)
 
Tips Ketiga.
 
Hindari menjadikan orang lain sebagai tolok ukur negatif
-“Alhamdulillah, si anu juga belum ngerjain tugas “
-Tiap-tiap manusia bertanggungjawab dengan apa yang dikerjakannya. (Qs. 52:21)
-Harusnya:
“Orang lain aktivis dakwah, tapi juga cum-laude, kenapa saya tidak?”
“Orang lain bisa “gaul” tapi juga menjauhi maksiat, kenapa saya tidak?”
 
Tips Keempat.
 
Hindari “Wah lagi malas nih …”
-Cara termudah: paksakan diri melawan malas.
-Banyak berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang menggoda dengan bentuk rasa malas.
-“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kegelisahan dan kesusahan, dari sifat lemah dan malas, dari sifat pengecut dan bakhil, dari bergelimang hutang dan dikuasai orang lain”
 
Tips Kelima.
 
Penundaan sangat mungkin karena ketidaktahuan tentang apa yang harus dikerjakan. Jadinya …. melamun saja ….
-Rasulullah telah memberi contoh, agar setiap aktivitas penggunaan waktu direncanakan dengan seksama.
-Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Qs. 94:7)
-Rencanakan jauh ke depan … sampai akherat !!!
 
  Tips Keenam.
Jangan melebihi kapasitas diri sendiri
-Kita sehari sama-sama dibekali 24 jam!
-Skala prioritas tolok ukurnya jelas: hukum syara’
Aktivitas utama adalah yang fardhu, baru yang mandub (sunnah), baru yang mubah.
-Pengalaman, banyak aktivitas yang la yamutu (tidak bermutu), misalnya nonton TV banyak-banyak.
-“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apapun yang tidak berguna baginya” (HR Turmudzi)
 
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar menyatakan bahwa suatu amal perbuatan apapun itu dapat menjadi kebiasaan bila dirintis pengerjaannya. Memakai istilah AA Gym, lakukanlah 3 M; yakni mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulailah sekarang juga.

Oleh sebab itu, hendaklah setiap muslim menyadari hal ini bahwa setiap amal itu perlu dikerjakan secara tuntas meskipun bertahap dan perlu dirintis sejak sekarang juga. Contoh sederhananya mungkin: kalau ingin jadi penghafal qur’an 30 Juz, sedangkan diri belum lancar baca qur’an maka sejak saat ini perlu merintis memperbaiki bacaan qur’an lalu meningkat ke merutinkan tilawah harian hingga tumbuh kecintaan terhadap qur’an, dilanjutkan dengan tadabbur dengan tetap melanggengkan tilawah rutin hingga tahapan menghafal (tahfidz). Contoh lainnya, bagi yang ingin segera menikah, sudah seyogyanya menyiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan ilmu dengan membaca dan mengikuti pelatihan-pelatihan pra nikah. paralel dengan persiapan psikologis dan materil. Mempersiapkan keluarga agar kelak tidak terkejut saat sang anak mengajukan dan persiapan lainnya. Semuanya perlu dirintis hingga sampai pada proporsi ketuntasan layak/ tidaknya segera beramal.

Meskipun kriteria ketuntasan berbeda-beda pada tiap jenjang amal, namun secara tidak sadar itu pun merupakan sarana rintisan untuk beramal tuntas. Wallahu’alam bishowab.


resources :

http://www.dari berbagai sumber pengalaman hidup J.com
 
[1] Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 1/456, Darul Kutub Al ‘Arobi. Lihat pula Ar Ruuh, Ibnul Qayyim, 247, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah; Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 2/325, Muassasah Ar Risalah; ‘Iddatush Shobirin, Ibnul Qayyim, 46, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[2] Dinukil dari Ma’alim fii Thoriq Tholabil ‘Ilmi, Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdillah As Sadhaan, 30, Darul Qobis
[3] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah
[4] Ini menunjukkan bahwa tidak masalah mendapat nasehat dari orang yang berpahaman menyimpang (semacam sufi) selama si penyimak tahu bahwa hal itu benar.
[5] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
[6] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi
 
                                                                                                25 Rajab 1432
                                                                                                21.05pm
                                                                                                k.s.a

 

ImageImage

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s