INDONESIA KU

Terkadang manusia baru akan menyadari nilai dan makna sesuatu yang dimilikinya setelah ia kehilangan atau terpisah dengannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebagai contoh adalah  saya yang sudah meninggalkan Indonesia selama 5 tahun karena berkesempatan untuk bekerja sebagai staff paramedis di negara minyak, Saudi Arabia. Setiap saat cuti tiba, saya selalu senggangkan waktu untuk ‘jalan’ bersama dengan suami dan keluarga. Sering pula dalam waktu santai, saya memanjakan diri untuk menulis dan kembali membaca artikel-artikel yang pernah saya tulis. Beberapa dari tulisan yang ada, selalu berbicara mengenai Indonesia. Dan yang membuat saya tertarik untuk terus membacanya adalah rasa penasaran, karena nyaris hampir dari semua artikel yang saya tuliskan, selalu saja mengesankan sisi negatif dari Indonesia. Sampai-sampai saya bertanya pada diri sendiri ‘’ Apa tidak ada sedikitpun sisi baik Indonesia yang bisa kamu banggakan dan tuangkan lewat sebuah tulisan? ‘.

Desember 2012 , saya kembali ke Ibu Pertiwi. Setelah selesai urusan di Imigrasi, tentunya saya mengarahkan kaki menuju pengambilan bagasi. Walau berada dalam ruangan AC, saya tetap merasa kepanasan dan spontan saya mengibaskan kertas untuk mengurangi rasa gerah yang berkepanjangan. ‘Ya ALLAH panasnya … ‘ ujar saya beberapa kali sambil mengibas-ibaskan kipas kertas yang saya miliki. Desakan –desakan beberapa TKW lainnya membuat emosi saya semakin tinggi, dan akhirnya lantang saya berkata ‘ Mbak, berjejer yang rapih donk, jangan asal sradak-sruduk aja’ , walhasil ucapan saya pun menarik perhatian beberapa pasang mata disekitar saya. Seraya mengambil tas bagasi mereka berkata ‘ Ini Indonesia Mbak, kalau tidak suka dengan cuaca panas dan tradisi sradak-sruduknya, balik aja lagi ke Saudi Arabia’.

Saat itu saya terperangah dan diam seribu bahasa, tanpa merespon ulang kalimat salah satu petugas kebersihan itu. Bukan karena saya takut, tapi karena saya memikirkan 1 kalimat yang menjadi ‘ilham’ bagi tulisan saya selanjutnya. ‘INI INDONESIA’ .. kata mereka, seakan-akan mereka mengesahkan tradisi yang buruk itu menjadi citra dari negara ini. Belum lagi habis pemikiran saya tentang kejadian di ruang bagasi tadi, saya kembali dihadapkan pada situasi lalu lintas yang super macet dan tidak teratur. Ketidak puasan saya pun melahirkan gumaman yang secara spontan saya ucapkan ‘Ya ALLAH, macetnya … ‘, suami saya hanya tersenyum dan menimpali kalimat saya santai ‘ Jakarta gitu loh’. Aneh tapi nyata, karena menurut hemat saya penduduk Indonesia sudah berada dalam zona nyaman terhadap kondisi yang ada. Mereka terbiasa dengan kemacetan dan tradisi ‘enggan antri’ nya . Padahal teori mengatakan, ketika manusia sudah mencapai zona nyaman mereka, biasanya mereka enggan untuk bergerak mencapai perubahan yang jauh lebih baik lagi. Bayangkan jika masyarakat Jakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya, merasa tidak nyaman dengan kondisi yang sudah ada. Otomatis mereka akan berusaha untuk mengerahkan diri, mengambil partisipasi agar suasana yang mereka inginkan bisa terjadi.

Sebagai contoh kecil yang selalu kita temui adalah masalah kemacetan. Sebagian ada yang berkata semua ini karena Pemerintah tidak melakukan perluasan jalan, padahal angka kendaraan bermotor dan mobil pribadi terus bertambah. Lalu saya berpikir, kenapa tidak masyarakatnya saja yang ambil inisiatif untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi? Coba kita lihat Hongkong, tidak sedikitpun saya temukan ada kemacetan disana. Karena masyarakatnya lebih memilih untuk naik transportasi umum seperti MTR, bus, sepeda bahkan jalan kaki. Kita lihat juga kedisiplinan para pengemudi transport umum, mereka tidak pernah sembarangan menurunkan penumpangnya kecuali di tempat pemberhentian. Para pedagang kaki lima, dikerahkan pada satu area, sehingga tidak menambah sempitnya ruas jalan yang sudah sempit.

Februari 10, 2013. Matangnya perencanaan kami pada hari minggu kali ini, mau tidak mau terpaksa dibatalkan karena suamiku mendapat informasi bahwa beberapa jam yang lalu telah terjadi kebakaran . Tugasnya yang memegang peranan dalam pelayanan kesehatan di GADAR (Gawat Darurat) Sudinkes Jakarta Barat, membuatnya harus selalu hadir ketika ada kebakaran/bencana alam. Kali ini, tidak seperti biasanya, ia memintaku untuk ikut  pergi bersamanya menuju lokasi kebakaran yang sudai mulai padam. Tanpa pikir panjang, aku pun memutuskan untuk pergi. Profesiku yang juga kebetulan tenaga kesehatan mendorongku  berpikir ‘ maybe, there is something i can do there to help ‘

Hampir 6 jam kami berada di lokasi kebakaran. Dan hal itu akhirnya membuatku tersadar, bahwa sebenarnya bukan mereka yang kami tolong, melainkan kami (terutama aku) yang sudah mereka tolong. Mereka telah menolongku mengubah cara pandangku terhadap gambaran Indonesia. Mereka telah membuka pikiranku, bahwa sebenarnya banyak sisi positif yang kita bisa lihat dari Indonesia. Diluar dari masalah kemacetan, buruknya disiplin masyarakat tentang antri, kemiskinan, kebersihan, korupsi dan lain-lainnya, sebenarnya Indonesia adalah negara yang penuh cinta, negara yang jiwa gotong royongnya masih sangat kuat dan tertanam dalam hati masyarakatnya. Saya terenyuh ketika melihat lebih dari ratusan orang berkumpul dan berusaha untuk membersihkan puing-puing dari rumah-rumah (100 rumah) beserta isinya yang terbakar habis oleh api. Saya terharu, banyaknya bantuan yang diberikan masyarakat setempat pada korban kebakaran, ada yang menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat penampungan sementara, ada yang berbaik hati saling mengumpulkan bahan makanan dan memasaknya untuk bisa dimakan bersama-sama. Ada yang sibuk mengerahkan tenaga, mengkoordinasikan warga untuk membersihkan jalan yang kotor setelah pembuangan puing-puing selesai. Hati saya tersentuh ketika salah satu korban kebakaran berkata ‘ semua barang habis terbakar, tapi kami sekeluarga masih bisa tertawa dan lupa dengan kesedihan yang ada, tidak lain adalah karena melihat ketulusan warga yang membantu kami tanpa pamrih’

Itulah gambaran Indonesiaku tercinta, dibalik keindahan alamnya, ia pun tetap menanam jiwa kekeluargaan pada masyarakatnya, yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh masyarakat negara lainnya. Dinegara mana pun, akan selalu ada sisi positif dan sisi negatif, namun kita Sebagai warga negara yang baik, mari lah kita buka mata dan kembali menanamkan prinsip ‘SADAR DIRI’, berusaha berpartisipasi untuk menciptakan negara yang kita cintai ini untuk menjadi lebih baik lagi, dimata Internasional, di mata anak-cucu kita nantinya. Mulailah dari sekarang, dari hal yang kecil, dan dari diri sendiri..

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s