KETIKA SEPI MENYAPA MEREKA YANG KITA CINTA

 

 

 

 

sebenarnya ini notes udah lama..hanya saja baru kembali dibaca setelah ‘dicolek’ kembali dengan kondisi dan curhat2 dari rekan yang sudah saya anggap sebagai orangtua.hmm… mudah2n notes ini bisa bermanfaat untuk semua yang membaca yaaaaa 🙂 

 

BismiLLAHirrohmanirrohiim…

 

cuti kali ini tidak seperti cuti tahun2 sebelumnya.jatah cuti yang diberikan Ministry of health selama 60 hari dalam 1 tahun,tidak ia habiskan sebagaimana biasanya.jauh sebelum tanggal yang tertera dalam visa expired,ia kembali ke negara yang sudah 10 tahun ‘menampungnya’J. Sebut saja ia dengan ‘baji’,wanita berusia 55 tahun yang sudah hampir 10 tahun mengabdikan dirinya bekerja di sebuah Rumah Sakit Negeri milik pemerintah Saudi Arabia ini mengatakan ‘ini lah rumah pertama saya,dan pakistan adalah rumah kedua dalam hati saya’

 

hmmm…dan kalimat itu bukan hanya terucap oleh beliau,beberapa staff lain yang seharusnya sudah menikmati masa tua nya dengan keluarga tercinta,lebih memilih untuk tetap tinggal dan melanjutkan kontrak kerjanya.”MENGAPA???” itu adalah pertanyaan pertama yang bermain dalam otak dan hati saya jika melihat pada kenyataan yang ada.saya pribadi menginginkan orang tua saya untuk ‘pensiun’ bekerja di masa tua nya dan menikmati kebersamaan bersama keluarga tanpa harus memikirkan kesibukan dunia dan tuntutannya.

 

Tapi saya rasa,tidak semua orang tua memiliki keinginan yang sama dengan pikiran saya,dan semua pasti ada alasannya…

 

Kalimat tanya itu pun terlontar langsung dari lisan saya,pada mereka yang memang dari segi usia sudah layak ‘pensiun’ untuk bekerja..ternyata,jawaban yang mereka berikan sungguh sangat mengharukan (bagi saya),jawaban yang dapat menjadi bahan renungan yang saya harap mampu memberi perubahan untuk ‘para anak’ agar lebih bisa ‘merasa’ apa yang diinginkan semua dari orangtuanya…

 

‘dulu,saat mereka masih kecil..hati saya selalu menjerit untuk pulang,saya merindukan mereka.dan saya tahu mereka pun sangat membutuhkan saya,tapi apa yang mau dikata?sebagai seorang single parent yang menjadi tulang punggung keluarga,saya lah yang bertanggung jawab untuk semua keperluan mereka…tahun demi tahun saya jalani dengan sabar dalam diam,berharap ketika saat itu tiba,saya akan menikmati lagi kebersamaan dengan mereka.tapi…ternyata,saya merasa.semakin mereka dewasa semakin mereka tidak memerlukan saya.kamu tahu apa yang saya rasakan tiap cuti tiba??hati saya menginginkan untuk segera kembali bekerja,kembali ke tempat dimana saya merasa ‘ada’ dan dibutuhkan oleh semua,untuk apa saya berlama2 tinggal dirumah?jika anak2 pun sangat sibuk dengan segala aktivitasnya LL  ‘

 

‘saya lupa kapan terakhir mereka mengatakan ‘mommy,i love you 😥 ‘ yang saya ingat adalah kalimat terakhir mereka saat bilang ‘terserah mami mau berapa tahun disana,kami bisa menej semua disini,yang penting kirim duit untuk kuliah kami ya mom’

 

Ya ROBB…hati saya menangis mendengarnya,terenyuh mendengar penuturan sedih sang ibunda tentang kesepian dan rindu akan cinta yang hadir dari anak2nya.

 

Lain lagi cerita dari seorang ibu Rumah tangga sejati seperti ibu Maria…ibu yang diberkahi dengan 8 orang anak ini pun tidak lepas dari perasaan sepi.setelah ke 7 anaknya besar dan berumah tangga ,kesepian itu pun melandanya..walau kesedihan itu disembunyikan,tapi mata yang berkaca2 kala mendapat telepon dari anak2nya menjadi saksi akan kerinduan yang dirasakannya LLL

 

Airmata saya ikut menetes di tengah jemari yang asyik menari diatas keypad laptop yang saya cintai,diiringi lagu dari Sakha tentang “ibu” ,sungguh membuat rindu saya pada seorang wanita nun jauh disana makin memuncak…

 

Sebening tetesan embun pagi

Secerah sinarnya mentari

Bila ku tatap wajahmu ibu

Ada kehangatan di dalam hati ku…

 

Air wudhu selalu membasahimu

Ayat suci selalu dikumandangkan

Suara lembut penuh keluh dan kesah

Berdoa untuk putra putri nya

 

Oh ibuku … engkaulah wanita

Yang ku cinta selama hidupku

Maafkan anakmu

Bila ada salah…

Penuh dengan mu tanpa balas jasa

 

Ya ALLAH,ampuni dosa nya

Sayangilah  ia seperti menyayangiku

Berilah ia kebahagiaan

Di dunia juga di akhirat….

 

Ketika manusia beranjak dewasa, jalan hidup memilihkannya alur untuk memulai kehidupan mandiri. Pikirannya semakin berkembang, dan kemauannya semakin kompleks, dan semua menunggu untuk terpenuhi. Area hidup yang semula dalam asuhan orang tua, berganti seiring dengan berlalunya waktu, kita diajukan pada berbagai pilihan hidup yang tak jarang membentangkan jarak yang menjauhkan kita dari mereka.

 

Tuntutan hidup inilah yang akhirnya mau tidak mau mendesak para orang tua untuk rela melepaskan anak- anaknya jauh dan memilih jalan hidup mereka sendiri. Rela tidak rela, namun tanpa kuasa orang tua harus merelakannya,melepas mereka ketika anak merasa bahwa ia sudah dewasa,terlebih lagi setelah mereka mulai disibukkan dengan pekerjaan dan keluarga mereka. Segenap doa orang tua kita panjatkan kepada sang maha kuasa agar anak- anak mereka selalu dalam pengawasan terbaikNya.

 

Ketika kesuksesan sudah ada dalam genggaman, sang anakpun berbangga dan berbahagia. Namun hal itu tidak lah seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaan sejati para orang tua. Mungkin dari mereka banyak yang tidak ikut menikmati, namun begitulah orang tua, melihat kebahagiaan anak- anak mereka, itu sudah lebih dari cukup membuat mereka berbahagia pula.Para orang tua tidak menuntut harta atau cipratan kemuliaan dari anak- anak mereka. Bahkan kalau mereka berpunya, justru mereka yang akan dengan sukarela membagi- bagikan semua yang mereka miliki kepada anak- anak mereka.

 

 Setelah semuanya terengkuh, kebanyakan dari kita melupakan satu hal. Waktu seakan sudah melenakan kita dari satu detikpun untuk berkirim kabar atau sekedar mengetahui keadaan orang tua terkasih, apalagi sampai mengunjunginya.berbagai alasan dipaparkan untuk membenarkan kelalaian kita ..

 

‘sibuk ma,belum sempat datang ke rumah’

‘aduh ma…jauuuh,kasian dede nya masih kecil’

‘nanti ya ma,ga ada yang antar’

‘kapan2 ya ma,minggu ini capek banget..kegiatan full’

 

Duhai para anak…

Masih ingatkah kita, ketika kecil dulu,semua waktu yang dimilikinya hanya tercurah untuk kita, seakan dunia orang tua telah kita beli dengan kepengurusan atas diri kita. Tapi sekarang… keadaan itu berbalik dengan yang kebanyakan kita lakukan sebagai balas jasa kita untuk mereka.

 

Pahamilah hati orang tua dengan bayangan bahwa nanti ketika saat itu tiba untuk kita. Saat dimana kitapun akan menua. Ketika belahan hati telah jauh, yang diharapkannya hanya ketulusan perhatian lewat kunjungan ataupun hanya sekedar pembicaraan singkat lewat telepon. Bayangkan ketika orang tua harus melewati hari- harinya dalam kesepian dan sendirian. Ibaratnya, susah payah dan sakit badan serta hatipun harus mereka tanggung sendiri. Sedangkan anak yang mereka telah besarkan dengan susah payah dan penuh pengorbanan, kini telah pergi untuk berbahagia dengan kehidupannya sendiri.

 

Sungguh, para orang tua tidak akan menuntut untuk berbagi kebahagiaan itu, bahkan mungkin sebagian dari mereka mencoba untuk berbicara dengan diri dan menyediakan sejuta pemakluman, bahwa siklus hidup memang begitulah adanya. Tapi bukankah mereka adalah orang tua kita? mereka yang berjasa sampai kita pada level sekarang ini. Mereka masih dan akan tetap berhak atas kita.

 

Begitulah ketika orang tua harus melewati babak akhir dari kehidupannya. Walaupun begitu banyak harta kekayaan yang dimiliki, toh semua hanya benda mati yang tidak memberi rasa dan membangkitkan gairah dalam hidup mereka. Walaupun absennya hadiah atau buah tangan dari anak- anak dan cucu mereka saat mengunjungi dan memperhatikannya, itu tidaklah masalah, karena sungguh kedamaian hati itulah yang tak bisa terbeli

 

Kalau saja usia tidak menuakan mereka, selamanya mereka akan tetap mengasuh kita. Mereka tak akan peduli seberapa dewasa dan mandirinya anak- anak mereka, orang tua tetaplah orang tua. Mereka akan tetap memelihara dengan kasih sayang yang paling paten kualitasnya untuk kita. Tidak ada balasan, tidak masalah. Tidak ada penghargaan, bukan hal yang perlu dirisaukan. Itulah orang tua.

 

Kesuksesan tidak berarti apa- apa jika kita mengesampingkan dan atau bahkan membuang arti kasih dari orang tua. Kemuliaan yang kita raih sebagai bukti kerja keras, tidak akan memuliakan kita jika hal itu justru menggiring kita pada kurangnya perhatian dan kasih kita pada orang tua.suatu hari kitapun insyaallah akan menjadi seperti mereka. Dan bila saat itu datang, kitapun ingin mendapatkan perlakuan sebaik- baiknya.

 

 

K.S.A  ——-  01.08.1432 ——-  18.05 pm

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s