Jalan Cinta Menuju Ridho-NYA (Surat Cinta Untuk Sahabat..)

8 tahun berlalu
Tidak terasa ya ju..
Dan itu bukanlah waktu yang sedikit bagi kita untuk selalu bisa mengenang moment spesial itu..

Manusia berencana, tapi Allah memegang kendali penuh skenario  mahluk hidup ditanganNya. Ada duka ketika perpisahan tiba.. Tapi toh akhirnya semua harus dijalani dengan lapang dada hingga pertemuan yang hakiki itu hadir dihadapan kita.

Pun demikian, kisah yang kita lewati bersama, pada tahun 2008 silam…

Allah Maha Baik Ya Ju..
Dengan skenario apapun, ketika IA menghendaki segala sesuatu terjadi, maka terjadilah.

Sama sekali kita tidak pernah menyangka, demikian indah Allah mengatur semua skenario untuk kita dalam hitungan waktu yang sangat cepat, sehingga pada akhirnya kita bisa berangkat bersama, menjalani rukun islam yang terakhir , ibadah Haji pada tahun pertama kita bekerja di Saudi Arabia..

Sebagian mereka melihat penuh tanda tanya..

” Koq bisa anak baru dikasih jatah Hajj duty 45 hari di Madinah? Padahal yang lainnya hanya 15 hari saja di Mekah ”

” Besok start perjalanan Haji, bagaimana mungkin mengurus ijin ke beberapa Mudir dan mendapatkan travel haji dalam waktu 1hari?”

‘ Belum gajian, jika kamu bayar semua sisa uang yang kamu pegang untuk Haji, selanjutnya bagaimana ??

” Tiket Pesawat PP untuk balik ke RS tempatmu kerja sudah tersedia.. Sudahlah, lebih baik balik saja’

Entah berapa kali kita bolak balik bertemu mudir, di oper kesana dan kesini, tanda tangan satu, dua, tiga… Demi sehelai kertas surat ijin kita untuk bisa melaksanakan ibadah Haji

Dan tekad serta doa akhirnya menjawab semua hambatan yang ada.. jika Allah telah memudahkan semua, maka tidak ada satupun yang bisa menyulitkan atau menghambat rencana perjalanan kita..

image

Ada banyak cerita dibalik perjalanan Haji yang kita lalui. Dari Agen Haji yang tidak resmi, sampai terpisahnya rombongan Haji kita saat memasuki Kota Makkah, hingga akhirnya perjalanan ibadah suci itupun tidak bisa kita nikmati bersama..

Tapi mungkin itulah yang terbaik bagi kita berdua ju.. Setiap sesi yang lewati, memiliki hikmah tersendiri, menuntut kita untuk lebih mampu bermuhasabah dan bersyukur pada setiap kejadian yang kita lalui..

Kita sama-sama buta..
Tidak tahu harus bagaimana memulai semua

Ketika yang lain memilih untuk kembali ‘pulang’ ke tempat asal tugasnya, atau memutuskan untuk sekedar jalan-jalan keliling kota besar seperti jeddah, kita memutuskan untuk melaksanakan Haji bersama.

Bismillah…
Dengan keyakinan akan janji Allah, kita melangkah.. Jika Allah telah mengundang kita untuk menjalani Ibadah Suci ini, pasti IA pun akan memudahkan segala sesuatunya untuk terlaksana..

Allah Maha Baik Ya Ju… 😥
Terlalu Baik hingga kadang kita lupa untuk bersyukur. Karena IA selalu memberi tanpa diminta, selalu mengasihi walau kita sering lupa..

Semua cerita tentang perjalanan haji, kita simpan sendiri.. Tidak kita sebarkan demi mendapatkan 1 kata yang sangat bermakna, yakni ‘Hikmah’

Tapi beberapa malam lalu,hati ini mulai terus mendesak, ingin menyuarakan kerinduan yang sudah tak terbendung lagi.. Bincang malam dengan suami mengenai Haji, mendorong alam sadar ini kembali mengingat proses Haji yang pernah kita lalui….

‘ceritakan padaku, bagaimana dirimu menghabiskan waktu dalam tenda saat berada di Arafah’

Ceritakan padaku, berapa lama perjalananmu dari Madinah menuju Mekkah untuk melaksanakan Haji’

‘Ceritakan padaku, bagaimana kau menghabiskan malammu di tenda saat kau di Mina… ‘

Arafah…
Muzdalifah…
Mina…

(Dan airmata kerinduan ini pun tak mampu lagi kubendung… Biarkanlah ia tumpah membasahi sajadah, sebagai saksi kerinduanku pada arafah T_T)

image

Seorang teman berkata ‘Sungguh, aku selalu berada dalam tenda, kami tidak diperbolehkan untuk
Keluar tenda saat di Arafah. Kami mendapat makan yang sangat cukup dan tenda yang sangat nyaman, sehingga tidak ada satupun keluhan yang bisa kami katakan’

Tenda…
Ah… Saat itu membayangkan nya saja, tidak ada dalam pikiranku.

Travel Haji yang kami ikuti, ternyata tidak memiliki ijin resmi, sehingga bis yang kami tumpangi harus rela ditinggal jauh sebelum kami memasuki Kota Makkah di malam hari..

Semua jamaah panik.. Putus asa, berpikir mungkin sampai disini sajalah Kita melangkah, mungkin ini merupakan tanda kalau Allah belum mengizinkan kita…

Namun pemimpin Grup tetap bersikeras untuk bisa menghantar kami melaksanakan ibadah suci Haji.. Akhirnya beliau pun memimpin kami untuk berjalan kaki melalui padang pasir,  selama +/- 4jam hingga kami mencapai perbatasan Kota Mekkah. Lelah? Pasti… Tapi semua itu tidak lagi kami rasa, ketika berjalan bersama dengan anggota jamaah lainnya, sambil menyuarakan Talbiyah

‘Labbaik allah humma labbaik, Labbaik kalla syarika laka labaik, Innal hamda wani’mata laka wal mulk laa syarikalah’

Seruan Talbiyah ditengah malam, di sepanjang jalan… Membuat kami merasa sangat kecil dihadapanNya, membuat kami merasa betapa Allah Maha Besar dengan segala kekuasaanNya…tidak hanya 1,2 atau 3 rintihan suara tangis yang terdengar, memecah kesunyian ditengah malam…

Perjalanan puluhan km itu tidak lagi terasa lelahnya karena kami tahu, bahwa kami bersama-sama dalam menjalaninya… Hingga pada akhirnya lelah itu terbayar saat kami semua memasuki perbatasan kota Mekkah. Perjalanan dilanjutkan dengan naik omprengan .. Mobil pick up terbuka membawa kami memasuki Masjidil Haram tepat disaat adzan subuh berkumandang..
Usai melaksanakan sholat subuh berjamaah, kami pun segera melaksanakan tawaf quddum yang menjadi awal tahapan dalam melaksanakan ibadah Haji…

Ketika beberapa teman berkata bahwa mereka menghabiskan proses wukuf dalam tendanya.. Kami menjalaninya diruang terbuka.

Indah…
Lantunan dzikr
Istigfar
Doa doa
Terasa begitu lebih menyatu saat kami melakukannya di alam terbuka, beralaskan tikar rombeng yang kami punya, tanpa adanya penutup yang bisa melindungi kami dari teriknya cahaya matahari…

Indah…
Di sanalah berbaur semua manusia menjadi satu, dari golongan apapun. Si miskin dan si kaya tidak terlihat beda nya, yang ada hanyalah usaha untuk lebih khusyuk di hari dimana dosa-dosa di ampuni oleh Allah swt..

image

image

Masy’aril Haram…muzdalifah.
Mabit pertama yang kami lakukan. Bergelar tikar, berselimutkan kain tipis, tidak serta merta mengikis syukur kami karena telah menjalani proses haji sampai disini..

image

Mina
Mungkin kamu juga merasakan yang sama ya ju. Bagaimana kita harus terus disuruh pindah oleh para petugas ketika kita baru saja menggelar alas untuk  istirahat. Alasan mereka cukup kuat karena keberadaan kita dijalan, mempersempit gerak langkah para jama’ah.. Mereka benar tapi mereka juga lupa, kalo kita juga jama’ah haji. Legal atau ilegal toh judulnya kita sama-sama sedang melaksanakan proses Haji. Manalah kita tahu kalo ternyata kita tergabung dalam grup Haji ilegal.. Yang tidak memiliki tempat yang jelas untuk tinggal. Tidak seperti mereka, yang berada dalam tenda di Mina..terjamin makan, istirahat nyaman, jauh dari terik matahari tajam dan dinginnya malam.

image

Tapi kita tetap menikmatinya hingga akhirnya proses jumroh tiba. Dari qubro, wustho dan sugro..dan berlanjut kembali ke makkah untuk tawaf Wada’. Kita begitu menikmatinya… Ya, kita begitu menikmatinya.. Menikmatinya karena proses kita yang berbeda. Membuat semua pengalaman terasa lebih istimewa..

image

Semoga Allah kembali mengundang kita ke sana,
Untuk kembali mengelilingi kabah, berjalan tujuh kali dari safa hingga marwah,
untuk kembali bisa duduk bersimpuh dalam tangis di padang Arafah, untuk kembali bermalam di Muzdalifah dan Mina, berjalan untuk melaksanakan proses jumrah

… Semoga, dan semoga saja kerinduan itu akan kembali menjadi nyata..

‘Labbaik allah humma labbaik, Labbaik kalla syarika laka labaik, Innal hamda wani’mata laka wal mulk laa syarikalah’

Dalam Ingatan
‘Arafah, Nov 2008’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s