We Planned, we guess. Allah decided, He Knows



–> Yakin mau di pondokin?”

–> kok tega? Kasian ah.. Masih kecil”

–> Ga tau deh ya, kalo gue kayaknya ga bakalan bisa and ga kebayang kalo harus jauh dari anak”

–> Jadi sebenarnya, mondok itu keinginan lo ato anak lo sendiri?”

–> Yakin ga dia kuat? Keponakan ku gak lama akhirny Minta keluar..

–> Emang kalo masuk pesantren dah jadi jaminan anak bakalan sholeh?

–> Biaya mondok kan mahaal

–> enak dong anak di pondokin semua, jadi bebas dari tanggung jawab mendidik

Ect..

Ect..

Ect..

Dan masih lagi banyak komentar ataupun pertanyaan yang mereka pertanyakan, sesaat setelah saya menjawab pertanyaan yang diajukan “lulus SD, adrian mau lanjut kemana?”

PONDOK PESANTREN

Saya akui, saya dan suami bukanlah type orangtua yang memiliki basis pemahaman agama yang baik. Jalan panjang yang berliku, dan penuh kerikil harus kami lalui untuk kembali padaNya. Dan semua itu menuntut kami, untuk terus belajar memperbaiki diri. Belajar untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi. Hal ini secara otomatis membuka pikiran kami lebih luas . Memberikan kami gambaran yang jelas, akan target apa yang harus kami lakukan dalam mendidik anak-anak.

saya rasa sangatlah wajar jika kecemasan dan kegalauan saya mendorong kata sepakat bagi saya dan suami untuk ‘memondokkan’ anak-anak, mengingat saat ini kita tengah mendidik anak-anak yang tumbuh di masa era digital. Masa yang ditandai dengan aneka kemudahan dalam mengakses segala informasi, baik yang positif maupun negatif melalui internet.

Jadi ‘yes’ , kalo ditanya mondokin anak itu keinginan siapa? Jelas semua berangkat dari harapan dan keinginan saya dan suami. Demikian besarnya keinginan kami tersebut, hingga sedari kecil kami terus sounding ke anak-anak akan rencana yang kami impikan ini. Sedemikian gencar nya sounding yang kami lakukan, sampai-sampai adrian tidak pernah menyebut tujuan lain, selain PONPES setiap kali ditanya ‘adrian kalo abis lulus SD mau melanjutkan kemana?’


Salahkah kami jika memiliki cita-cita anak yang sholeh?

Salahkah kami jika memilih pondok pesantren sebagai langkah lanjut kami untuk mencapai cita-cita tersebut?

–> Emang kalo masuk pesantren dah jadi jaminan anak bakalan sholeh?

Di akhirat kelak, Allah Ta’ala akan meminta pertanggung jawaban orangtua atas anak-anak mereka. sebagaimana sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam:

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan di tanya tentang orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia, ia akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnnya. Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya, dia juga bertanggungjawab atas mereka. Demikian juga wanita (isteri) adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan anaknya, dia juga akan ditanya tentang mereka. (HR Bukhori)

Tugas kita sebagai orangtua hanya sebatas pada maximal usaha dan berdoa dalam mendidik anak-anak. Mulai dari memperbaiki diri agar dapat dijadikan role model yang baik untuk mereka, dan banyak berdo’a agar Allah menjadikan anak-anak kita termasuk dalam golongan yang sholeh, aamiin. 

Ada banyak macam ikhtiar yang bisa orangtua lakukan. Dan kami memilih memondokkan anak-anak di Ponpes sebagai salah satu ikhtiar kami. Tidak ada satu yang dapat menjamin sebuah keberhasilan dari ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan kecuali tawakaltu alallah.. Berserah diri kepada Allah atas kehendakNya, yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha dan doa-doa dari hamba yang ingin mendapatkan ridhoNya. 

Pada dasarnya keluarga adalah madrasah pertama bagi anak sebelum mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan sosial di luar rumah. Dari rumah, anak-anak dipersiapkan agar mampu menolak berbagai pengaruh negatif yang datang menghampirinya.

Dan ikhtiar tiap-tiap keluarga pasti berbeda. Tapi satu yang pasti, semua memiliki cita-cita yang sama.. Yakni melahirkan generasi yang kuat, cerdas, penyejuk mata dan hati serta mampu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (aamiin allohumma aamiin)

Saya pun tidak tahu apakah impian kami ini bisa terwujud atau tidak. Kami sadar, berjalannya sebuah ketetapan adalah murni hak prerogatif Allah ta’ala. As we said in the tittle above ” We Planned, we guess. Allah decided, coz He Knows what s best’

Semoga Allah mampukan kita dalam menjaga amanah yang telah dititipkanNya, semoga Allah limpahkan kita banyak kekuatan, Kesabaran dalam menjaga dan mendidik mereka semua. Aamiin


“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (66:6)

Advertisements

Agar Fenomena Musa Tak Berhenti Sampai Berdecak Kagum

By : Kiki barkiah
Memulainya mudah,Yang sulit itu untuk tetap istiqomah, lebih baik melangkah kecil tapi terus maju, daripada setelah berlari lalu berhenti tak bergerak lagi 

Istaqimna fi hifdzil qur’an wa tsabit quluubana ‘ala tho’atik Ya ROBB T_T
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia kelak di surga, namun tidak setiap manusia bergerak meraihnya. Setiap manusia pasti tidak menginginkan kehidupan sengsara di neraka, namun tidak setiap manusia bergerak menjauhinya. Menyimak peristiwa fenomenal di tanah air, tentang ananda Musa, seorang bocah berusia 5.5 tahun yang hampir hafal 30 juz Al-Quran, memunculkan keunikan respon dari setiap individu yang melihatnya. Sebagian orang merasa terinspirasi untuk mulai menghafal Al-Quran. Sebagian lain merasa termotivasi untuk menambah hafalan Al-Qurannya. Sebagian lain merespon dengan “menggenjot” hafalan quran anak-anaknya. Sebagian lain terinspirasi untuk mulai mengajarkan Al-Quran pada anak-anak balitanya. Sebagian lain mulai membaca Al-quran setelah bertahun-tahun terpajang di dalam rak buku mereka, Sebagian lain merespon dengan membeli Al-quran setelah sekian tahun rumah mereka kosong dari lantunan Al-Quran. Sebagian lain mulai belajar membaca Al-Quran. Namun tidak sedikit diantara mereka yang sibuk merespon dengan komentar-komentar “miring” dengan sudut pandang “pemaksaan” dalam pendidikan anak.Insya Allah, bagi mereka yang didalam hatinya masih ada cahaya keimanan, pasti memiliki rasa kerinduan dan harapan agar diri dan keturunannya bisa mengikuti jejak langkah ananda Musa. Namun pertanyaaanya, apakah kerinduan dan harapan ini mampu menggerakan diri kita untuk menyusun langkah strategis dalam mencapainya?. Alangkah sayang jika fenomena Musa ini hanya berhenti sampai dengan decakan kagum kita terhadap keistimewaannya.
Musa, bukanlah bocah yang terlahir di negeri Arab. Musa, bukanlah bocah jebolah pesantren penghafal Al-quran. Ia hanyalah bocah yang ditempa oleh kedua orang tuanya sejak usia balita untuk mencintai dan mengabdikan diri terhadap Al-Quran ditengah gelak tawa keceriaan bermain layaknya anak seusianya. Inilah yang kemudian memberikan harapan dan energi bagi keluarga muslim Indonesia, bahwa keluarga manapun memiliki kesempatan untuk meneladaninya. Agar fenomena ini tidak berhenti sampai dengan decakan kagum terhadap seorang Musa, melalui tulisan ini saya ingin mengajak saudara-saudari semua terutama diri pribadi untuk meneladi keluarga-keluarga Indonesia yang telah berhasil membangun keluarga mereka menjadi keluarga qurani.
Mari kita simak pesan ust Mumtamimul Ulla, seorang ayah dari 10 anak yang hafidz Quran. Beliau berpesan dalam sebuah acara bedah buku “10 Bersaudara Bintang Al-Quran”. Menurut beliau keluarga qurani adalah keluarga yang berinteraksi dengan Al quran serta menjadikan Al quran sebagai pedoman hidup. 

Ciri-ciri keluarga qurani adalah:

1. Mengimani kebenaran Al quran. Dalam ayat kedua surah Al Baqoroh, Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

2. Mengamalkan Al quran. Mengamalkan Al quran hukumnya fardhu ain, sementara menghafalkan hukumnya fardhu kifayah.

3. Membaca Al quran terus menerus. Beliau menyarankan minimal satu juz satu hari supaya kita senantiasa merasa diingatkan terus sehingga kita tidak dikatakan lalai. Termasuk didalamnya menghafalkannya. Salah satu tanda anak yang menghafal adalah mendapat kemuliaan dengan melekatnya hafalan dalam dirinya. Sehingga ketika dewasa tahu hukum-hukum di dalam Al quran.

4. Mendalalami atau mentadabburi Al quran secara intensif.

5. Menyebarkan Al quran baik ayatnya maupun isinya.

6. Meneruskan Al quran kepada anak-anak kita. [1]
Membangun keluarga qurani harus dimulai dari bagaimana menanamkan 6 hal yaitu:

1. Mendoakan keluarga kita sebab doa itu diatas ikhtiar. Contoh doanya adalah Ya Allah, jadikanlah hapalanku kuat, ya Allah jadikanlah hapalanku mengalir seperti air. Sebab indikator kecerdasan adalah kekuatan hapalan.

2. Memberi contoh.

3. Membentuk lingkungan yang mendukung anak menghafal Al-quran

4. Terus menerus memberi nasehat.

5. Membiasakan mengajak ke masjid.

6. Memberikan reward kepada prestasi anak [1]
Dalam Kesempatan seminar lain, salah satu dari 10 bintang Al-Quran Faris Jihady berpesan bahwa orang tua perlu memotivasi anak untuk menghafal, dengan memberikan contoh-contoh orang sukses yang hafal Qur’an. Hal ini agar dapat menunjukkan keuntungan hafal Qur’an yang lebih masuk ke logika anak, dibandingkan menunjukkan keuntungan yang abstrak seperti pahala. [2]
Mari kita tengok keluarga ust Budi Dharmawan dan Alm ustadzah Yoyoh Yusroh, sebuah keluarga sholih yang memiliki 13 mujahid mujahidah penghafal Al-Quran. Dalam sebuah seminar tentang membangun generasi Al-quran, ust Budi berpesan untuk membentuk generasi Qur’ani, tidak dimulai dari mencari seorang istri atau suami, tapi mencari ibu atau ayah. Bedanya mungkin tipis, tapi signifikan. Kalau mencari istri/suami, yang dikedepankan adalah idealita pribadi (apa yang disukai oleh dirinya). Tapi kalau mencari ayah/ibu, yang dikedepankan adalah idealita generasi; Anak-anak seperti apa yang ingin dibentuk, maka carilah ibu atau ayahnya yang bisa menyiapkan anak-anak seperti ini. [2]. 
Salah seorang anak dari pasangan ini Umar Al-Faruq yang telah selesai menghafal 30 juz Al-Quran, memberikan testimoni dalam seminar yang sama bahwa semangat Qur’an dibawa ke Indonesia oleh ibunya setelah berkunjung ke Gaza, Palestina. Di Gaza, saat perkenalan dengan ummahat di sana, semuanya menyebutkan nama, jumlah anak, dan pernyataan “saya hafizh Qur’an” atau “saya hafal Qur’an 30 juz”. Perdana menteri Palestina, Ismail Haniya pun hafal Qur’an 30 juz. Tentara Izzudin Al Qossam, setiap hari saat berjaga di perbatasan tidak pernah lepas dari Qur’an. Setiap regu berjaga terdiri dari 10 orang, dan masing-masing membaca 3 juz per hari. Jadi setiap hari 30 juz Al-Qur’an dibacakan. Begitu juga dengan anak-anak, setiap tahunnya ribuan anak-anak diwisuda hafal Qur’an.”Hh.. kalau inget Palestina dan Qur’an mah, saya selalu inget ini: “Kalau hafalan cuma 1-2 juz mah di Palestina cuma jadi tukang cuci piring” T_T” canda Umar Al-Faruq [2]
Mari kita tengok keluarga ustad Yusuf Manshur,putrinya Wirda Salamah Ulya sekarang berusia 11 tahun dan sudah hafal Qur’an. “Dulu, Wirda berpikir hanya mau menghafal 15 juz aja karena susah menghafal. Tapi pada usia 8 tahun Wirda bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Di akhir mimpinya Wirda, Rasulullah SAW bilang, kalau kamu sungguh-sungguh menghafal Qur’an maka akan Allah mudahkan” [2]
Dalam proses menghafal Al-quran, seorang anak memang melaluinya dengan penuh perjuangan bahkan mereka harus mengorbankan sebagian waktu bermainnya untuk Al-quran. Seorang Hafidz Al-Quran bernama Nugraha awalnya hanya menghafal di waktu ba’da maghrib sampai Isya. Namun karena dirasa tidak cukup, akhirnya Nugraha merelakan waktu mainnya dari ba’da Ashar sampai jam setengah lima untuk menghafal serta menyetor hafalan ke gurunya setiap ba’da subuh. Akhirnya, dia bisa menyelesaikan hafalan Qur’annya dalam waktu 4 tahun (3 th SMP dan 1 th SMA). Menurut Nugraha, hafal Qur’an sangat menguntungkan. Saat kuliah, menghafal pelajaran jadi lebih mudah karena terbiasa menghafal. Dan hafal Qur’an juga menjaga diri dari melakukan tindakan buruk. “Masa hafal Qur’an, tapi kelakuan buruk” [2]
Ustadzah Aan Rohanah, Lc, M.Ag berpesan bawah untuk membina generasi Qur’ani harus dapat mengkondisikan lingkungan. Apabila orang tua sibuk, dan tidak bisa mengkondisikan anak untuk tahfizh di rumah, orang tua bisa memasukkan anak ke pesantren tahfizh. Meskipun begitu, orang tua harus tetap momotivasi. Apabila anak tidak betah di pesantren, jika orang tua visinya beda, mungkin akan membiarkan anak keluar dari pesantrennya. Namun jika visi membangun generasi Qur’ani-nya sama, maka anak akan dipertahankan dan terus dimotivasi. Beliau juga berpesan untuk jangan lupa berdo’a dan melaksanakan shalat hajat untuk mendo’akan anak yang susah menghafal Qur’an [2].
Ustadzah Aan juga memberikan tips kepada para ibu yang merindukan generari qurani diantaranya yaitu:1. Saat hamil ibu rajin menghafal qur’an2. Memperdengarkan Al-Quran secara instensif kepada anak (misal saat menyusui)3. Serta sering memperdengarkan nama Allah pada anak [2]
Abu Hanafi ayah Musa memberikan 10 tips bagi kita para orang tua dalam mendidik anak-anak menjadi para penghafal Al-quran diantaranya:

Cari istri sholehah yang kelak akan menjadi partner anda dalam mendidik anak

Tegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada anak meskipun masih kecil

Jauhkan dari musik dan tontonan yang merusak

Tanamkan aqidah dan tauhid kepada anak

Perkenalkan kepada anak siapa ahlu sholah dan siapa ahlu maksiat

Orang tua harus menjadi contoh anak

Orang tua ketika amar ma’ruf dan nahi mungkar harus ada rasa tega diri mereka kepada anak-anak, Contohnya ketika merintahkan belajar,banyak orang tua yang tidak tega. Ingat, Emas tidak akan jadi mulianya dan berharga kecuali setelah penempaan yang luar biasa.

Tentukan jadwal anak seketat mungkin, kapan belajar, makan, mandi, bermain, dan orangtua harus istiqomah dan jangan di remehkan dan di langgar

Jangan terlalu memperdulikan perkataan orang dalam mendidik anak kita, tetap istiqomah dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.

Meskipun ada Ketegasan dalam mendidik, orang tua juga harus tetap mempelihatkan Kelembutan kepada anak [3]
Demikian sebagian wajah-wajah keluarga Indonesia yang telah berhasil membangun keluarganya menjadi keluarga qurani Selain ini masih banyak bertebaran para keluarga penghafal Al-Quran yang tidak diliput oleh media. Mungkin beberapa tahun lalu, mereka pun sama seperti kita, berharap dapat membangun keluarga Al-quran namun tidak tahu harus memulai dari mana. Semoga beberapa tahun lagi kelak kita dapat menulis atau membaca artikel dimana didalamnya memuat testimoni anak-anak kita yang telah menjadi hafidz al-Quran. Ammin ya Rabbal Alamin
Sumber kutipan testimoni
[1] http://ummatika.blogdetik.com/education/hidupkan-keluarga-qur%E2%80%99ani-di-rumah/

[2] http://henings.wordpress.com/2012/08/12/membangun-keluarga-generasi-qurani/

[3] http://www.islamedia.co/2014/07/inilah-10-tips-mendidik-anak-usia-55.htm